Liputan Metro TV

Menjual Aneka Produk Rumah & Gazebo Kayu Knock Down - Tanpa Perantara (Pengrajin Langsung)

Sangat Cocok untuk Rumah Tinggal, Villa, Cottage, Bungalow, Kantor, Mess Karyawan, Musholla, Restoran, Gazebo, Rumah Kebun, dll

Workshop & Display Unit :
Desa Tanjung Batu Seberang & Tanjung Baru Petai Kec. Tanjung Batu, Kab. Ogan Ilir Sumatera Selatan
Tampilkan postingan dengan label Kata Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Media. Tampilkan semua postingan

Bisnis Rumah Bongkar Pasang Seharga Rp 45 Juta/Unit

http://finance.detik.com/properti/d-2209938/bisnis-rumah-bongkar-pasang-seharga-rp-45-jutaunit


Jakarta - Harga rumah kini kian melambung seperti di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Surabaya dan kota besar lainnya. Namun jangan khawatir, ada salah satu solusi untuk mendapatkan rumah murah, dan hebatnya lagi bisa dibongkar pasang.

Dadang, seorang pengusaha rumah bongkar pasang asal Palembang yang telah menjalankan usahanya sejak tahun 2000, meneruskan apa yang telah dikerjakan oleh orang tuanya. Dadang memiliki usaha membuat rumah berbahan baku kayu meranti, dan bisa dibongkar pasang sesuai kehendak konsumen.

\\\"Kita usaha rumah kayu knock down atau bongkar pasang. Jadi konsumen hanya menyediakan tanah, kita sediakan rumah kayu bongkar pasang,\\\" kata Dadang saat ditemui detikFinance di acara Sriwijaya Exhibition di plasa Kemenperin, Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (2\/4\/2013).

Tipe dari rumah yang dijualnya ini bermacam-macam. Layaknya rumah tapak biasa, Dadang menawarkan rumah dengan tipe 24, 48, 80, dan 96. Tentu saja, beda tipe beda juga harga jualnya. Kisaran harga yang ditawarkan mulai dari Rp 45 juta hingga Rp 150 juta per unit
Readmore »» Bisnis Rumah Bongkar Pasang Seharga Rp 45 Juta/Unit

Rumah Kayu ala Tanjung Batu Seberang

http://www.neraca.co.id/article/24177/rumah-kayu-ala-tanjung-batu-seberang

Sabtu, 26/01/2013
Back to Nature. Kalimat pendek itulah yang menjadi angan-anagn banyak orang yang menginginkan bentuk rumah yang alami, serba terbuat dari bahan alam. Dan kayu merupakan pilihan yang dianggap pas, selain dari bahan bebatuan.
Rumah kayu memang terkesan mahal, klasik, tapi juga eksotis. Biasanya, rumah kayu ini memilih alur tradisional kedaerahan. Kendati demikian, bisa saya rumah kayu yang kita kehendaki bergaya minimalis modern atau kontemporer. JIka ada gambar detilnya, kita bisa mempekerjakan tukang kayu, atau ada sejumlah perajin tradisional yang siap membantu mewujudkan impian kita memiliki rumah kayu. Salah satu contohnya perajin rumah kayu di Desa Tanjung Batu Seberang, di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sekiar 1,5 jam perjalanan darat dari Palembang. Perajin rumah kayu legendaris di sana bernama Usang Sungging.
Readmore »» Rumah Kayu ala Tanjung Batu Seberang

Rumah Knockdown Makin Digemari

"Rumah Knockdown Makin Digemari" itulah judul liputan wartawan Sriwijaya Post hari ini (Kamis, 18 April 2013).
Readmore »» Rumah Knockdown Makin Digemari

Shooting Acara CITA-CITAKU - TRANS7

Ngobrol santai antara Tim TRANS7 dengan aktor CITA-CITAKU di Gazebo segi 6

IN ACTION : Shooting di salah satu rumah Pengrajin Rumah Knockdown

Readmore »» Shooting Acara CITA-CITAKU - TRANS7

Shooting Acara Jejak Si Gundul - TRANS7








Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pihak Manajemen TRANS7 yang telah berkenan datang dari Jakarta ke Workshop kami untuk meliput Sentra Industri Gazebo & Rumah Knock Down di Desa Tanjung Batu Seberang untuk ditayangkan pada Acara Jejak Si Gundul pada tanggal 01 Oktober 2010 . Semoga tayangan ini bermanfaat bagi kelangsungan usaha kami dan membawa berkah untuk para pengrajin di Desa kami. Dan semoga TRANS7 tetap jaya.
Readmore »» Shooting Acara Jejak Si Gundul - TRANS7

Ogan Ilir Produsen Rumah Bongkar Pasang

Oleh : Adriyaneka | 19-Des-2007, 03:48:32 WIB

KabarIndonesia - Palembang , Usaha pembuatan rumah knock down (rumah siap pasang) hasil kerajinan warga Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Provinsi Sumatera Selatan yang dikenal ratusan tahun sudah ditekuni warga memasuki fase kurang menggembirakan. Kerajinan yang turun temurun ratusan tahun dari para nenek moyang mereka itu berada diujung tanduk, antara hidup dan mati. Maka sepatutnya usaha ini mendapat perhatian serius dari pemerintah dan para pemilik modal.
Pengrajin rumah siap pasang di Tanjung Batu, Kabupaten OI, provinsi Sumsel ini sebetulnya ditekuni seluruh penduduk.

Di Tanjung Batu sendiri penduduknya tak kurang dari 1.400 kepala keluarga. Dari tahun ke tahun, usaha yang sudah mengharum kan nama Ogan Ilir ke dunia internasional itu mengalami masalah serius. Perlahan para pengrajin yang tidak tahan menghadapi tantangan usaha ini mulai satu per satu meninggalkan usaha tersebut.
“Kalau dihitung-hitung pak, mungkin sudah sepuluh persen warga kami di sini mulai meninggalkan usaha rumah kayu ini. Mereka lari dengan menggganti lapangan kerja ke dunia pertanian dan perkebunan,” kata Mas Ad, seorang pengrajin rumah siap pasang yang ditemui kabarindonesia di tempat usahanya Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir.


Kendala yang sangat mendasar dihadapi pengrajin rumah siap pasang di Tanjung Batu Sumsel ini diakui pengrajin ada dua hal. Pertama sulitnya mendapatkan bahan baku sehingga harganya terus menerus naik, kedua masalah kesulitan permodalan. “Soal modal inilah pak sering jadi halangan, kami tergantung dengan pesanan. Bila ada orang yang memesan minta dibuatkan kalau ada dananya sebesar 50 persen kami siap membuatnya. Nanti kalau sudah hampir rampung kami minta lagi biayanya 20 persen, setelah siap dipasang kami minta seluruh biayanya,” tandas Ali, pengrajin yang lain.

Harga pembuatan rumah siap pasang ini sendiri tergantung ukuran. Tapi sekarang karena sulitnya bahan baku dan harganya semakin tinggi, harga pembuatannya dipukul rata per meter rata-rata satu juta rupiah. Jadi kalau memesan minta dibuatkan rumah ukurannya 5 meter x 7 meter, maka harga rumah itu tiga puluh lima juta. Tapi sesuai tradisi rumah itu murni kerangka dinding papan, tanpa tiang jika ingin dibuat panggung, tanpa plafond an tanpa atap. Harga rumah ini juga ada yang sampai ratusan juta, tergantung ukuran dan pesanan bahan yang ingin dibuatkan.

Produksi rumah siap pasang Tanjung Batu ini tidak asing lagi bagi pencinta rumah kayu baik pemburu rumah alami naturalis baik dari dalam maupun luar negeri. Penggemar rumah siap pasang ini mulai dari warga Palembang, Bengkulu, Jawa Barat, Jakarta, hingga manca negara seperti Malaysia, Singapura, Spanyol, Brasil dan beberapa negara lainnya. Dalam pendataan pihak pemda OI sudah ratusan order rumah siap pasang ini yang diekspor ke luar negeri selama usaha itu ditekuni warga.

Bahan baku pembuat rumah sekarang sudah bergeser, ke kayu seru. Biasanya minimal memakai kayu meranti kualitas ekspor, tetapi karena kayu-kayu jenis itu sudah semakin sulit didapat di sumatera selatan, harganya turus naik. Dulu satu kubik harga kau meranti Cuma Rp 850 ribu, sekarang sudah mencapai Rp 2 juta lebih per meter kubik. Kayu seru yang dulunya Rp 450 ribu, sekarang sudah sampai Rp 1,3 juta satu meter kubiknya.

Ketika dimintai tanggapannya secara khusus masalah ini, Bupati Ogan Ilir, Mawardi Yahya, mengakui dan memahami betul kesulitan para pengusaha rumah knock down yang beratus tahun lamanya ditekuni warganya. Pemkab Ogan Ilir sendiri terus berusaha melakukan pendekatan ke departemen kehutanan, sekiranya ada langkah kemudahan bagi para pengusahanya untuk bisa dan mudah cara mendapatkan bahan baku kayu, karena selama ini persoalan perizinan lintas sektoral dan antarprovinsi sering menyulitkan para pengusah dalam mendapatkan bahan baku ini.

Akibatnya, untuk mendapatkan bahan baku dari luar provinsi sering para pengusaha mengeluarkan biaya operasional lebih besar, maka wajar bila harga rumah kayu siap pasang ini yang tadinya hanya Rp 15 juta untuk ukuran kecil 5 x 7 meter, kini sudah mencapai Rp 35 juta.
Kenaikan harga bahan pembuatan rumah siap pasang ini berakibat menurunkan permintaan terutama warga sekitar Tanjung Batu seperti Palembang dan sekitarnya, Mas Ad mengatakan ada sekitar 25 persen penurunan order permintaan, dalam setahun dia pernah mencapai pesanan dibuatkan rumah kayu 15 sampai 20 rumah, sekarang paling banyak tiga rumah sudah ada bersyukur.

Dilihat dari teknik membuat disaind dan kerapian, para pengrajin rumah kayu Tanjung Batu ini tidak diragukan lagi, mereka mampu membuat ukiran apa saja yang dipesankan, hanya mereka membutuhkan uluran para pemodal yang tidak memeras keterampilan mereka saja, tetapi juga meningkatkan kemampuan kreativitas, mampu meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan keluarga, serta mampu dan mudah mendapatkan bahan baku. Kuncinya tak lain tergantung bagaimana pemerintah kabupaten ogan ilir mencarikan solusi persoalan yang mereka hadapi ini. (Adriyaneka)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

Readmore »» Ogan Ilir Produsen Rumah Bongkar Pasang

Rumah Panggung Juga Bisa Modern


Untuk mendapatkan pencahayaan alami yang optimal, tampak depan rumah di lantai atas terdiri dari kaca dan jendela pivot. Agar tidak terlalu silau di siang hari bagian ini dilapisi kisi-kisi kayu.

KOMPAS.com - Beberapa saat setelah tiba di kediaman keluarga Santoso W. Reksoprodjo (35) di daerah Pejaten, Jakarta Selatan, Tabloid RUMAH langsung diajak ke lantai atas, melalui tangga yang ada di bagian depan rumah. Mengapa tidak ke lantai bawah lebih dulu?

“Inilah konsep dasar rumah panggung. Di sini, kami melakukan kegiatan utama di lantai atas,” jawab Santo—panggilan akrab Santoso W. Reksoprodjo. Konsep bertinggal seperti ini umurnya sudah tua sekali.

Dulu, nenek moyang kita membuat struktur yang dinaikkan karena beberapa alasan—seperti menghindari binatang buas dan mencegah kelembaban (terutama pada lingkungan berair). Pada rumah panggung modern milik Santo, arsitek sekaligus pemilik rumah ini, Anda dapat menyaksikan bagaimana konsep rumah panggung tradisional diterjemahkan dalam bangunan modern.

Seperti rumah pada umumya, sebelum memasuki ruang tamu/keluarga, terdapat teras yang terbuka dan asri (di lantai atas). “Saya biasa menerima tamu di teras ini,” ujar Santo.

Ruang-ruang yang ada di lantai atas adalah ruang tamu/keluarga, ruang makan, ruang tidur, dan kamar mandi. Lantai bawah dimanfaatkan untuk ruang servis, garasi, kamar anak, dan ruang makan. Arsitek yang berkantor di daerah Tebet Jakarta Selatan ini melanjutkan, “bedanya dengan rumah tradisional—yakni melakukan kegiatan memasak di lantai atas—saya meletakkan dapur di bawah untuk alasan keamanan, jadi tidak boleh ada api di lantai atas.”

Konstruksi Panggung
Konstruksi panggung adalah warisan budaya dalam membuat bangunan dari nenek moyang kita. Tengoklah rumah tradisional di Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi, rata-rata berupa rumah panggung. Konstruksi yang “diangkat ke atas” seperti ini menuntut penggunaan struktur yang ringan. Santo memilih besi hollow sebagai kolom dan balok utama dengan bentang maksimal 5 m dan sambungan antarbesinya dilas.

Ia berkomentar, “paling baik sebenarnya adalah sambungan dengan baut, tapi di sini saya hanya mengelasnya.” Sambungan dengan baut membuat konstruksi tidak kaku sehingga apabila terjadi gempa, bangunan tidak akan rubuh tapi mengikuti arah gerakan. Sedangkan untuk atap, digunakan struktur atap baja yang dilapis dengan kalsiboard.

Struktur antigempa juga ditemui pada struktur bawah. Santo menggunakan pondasi umpak/setempat dari beton bertulang pada tiap kolom. “Tidak perlu sloof karena saya tidak memakai dinding bata sehingga beban bangunan tidak berat,” jelas Santo.

Lantai atas tidak seluruhnya di-dak, hanya di bawah teras, kamar mandi, dan tempat AC. Sebagian besar struktur lantai atas menggunakan balok-balok kayu berjarak 60 cm dan dilapis multipleks 2 cm.(Tabloid Rumah/mya)

Lokasi : Kediaman Santoso W. R. (Art Design Indonesia /Pejaten)

Rabu, 14 Oktober 2009 | 14:49 WIB

Readmore »» Rumah Panggung Juga Bisa Modern

Rumah Panggung Hadapi Tantangan

Ratusan warga Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, mewarisi kearifan lokal membuat rumah panggung bongkar pasang. Sampai sekarang, rumah produksi kreatif warga itu banyak diminati masyarakat di berbagai kota, bahkan banyak yang diekspor ke sejumlah negara.


Di banyak daerah di Tanah Air, rumah-rumah tua umumnya terbuat dari kayu dan arsitekturnya mencerminkan keunikan serta kearifan budaya lokal. Walaupun bencana datang silih berganti dalam hitungan tahun, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, rumah-rumah tua tersebut tetap kukuh berdiri.


Rumah gadang yang berarsitektur Bagonjong di Sumatera Barat, misalnya, tetap berdiri tegak dan selamat dari gempa walau puluhan kali gempa terjadi setiap bulannya. Hal ini terjadi karena arsitekturnya salah satunya mempertimbangkan keamanan dari gempa.

Sama halnya dengan rumah gadang, rumah-rumah khas kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat, dan juga di provinsi lain di Indonesia, yang umumnya terbuat dari kayu, juga relatif aman dari ancaman gempa bumi. Sementara itu, rumah-rumah permanen yang berarsitektur masa kini dan modern hampir selalu mengalami kerusakan, setiap kali gempa bumi terjadi.

Karena tidak didesain tahan dan aman dari gempa, makanya bencana gempa bumi menelan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Begitu juga jika banjir terjadi, banyak warga mengalami kerugian harta benda dan kehilangan anggota keluarga.

Padahal, dulunya, nenek moyang Indonesia melalui kearifan budaya sudah mempertimbangkan faktor bencana ini dalam desain rumahnya. Makanya, di daerah rawan banjir atau daerah genangan air, rawa, lebak, dan pinggiran bantaran sungai, rumah-rumah panggung hampir selalu mendominasi.

Di Desa Tanjungbatu Seberang dan Tanjungbaru Petai, Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, dan di Woloan, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, rumah-rumah panggung yang menjadi tradisi nenek moyangnya telah menjadi industri kreatif sejak dulu dan sampai kini masih bertahan.

Di dua provinsi itu masyarakatnya membuat rumah panggung knock down atau rumah bongkar pasang. Mereka menawarkan kearifan lokal untuk hunian di era global. Walaupun tidak ada booming, tetapi permintaan selalu saja ada dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara.

”Industri kreatif berupa rumah panggung menjadi sesuatu yang unik di zaman sekarang,” kata Rita Adhiningrat, desainer interior dan Direktur PT Tata Agathis.

Ia menyebutkan, di Tomohon ada tempat penginapan yang berarsitektur rumah panggung, selalu penuh tamu. Untuk bisa menginap, tetamu harus antre. Begitu juga dengan sebuah rumah panggung yang diberi nama rumah pohon di suatu kawasan wisata di Bogor, orang yang ingin menginap di sana begitu antrenya.

Ira Maxi, pengusaha dari Jakarta, ketika ditemui tengah menawar rumah panggung di Tomohon, mengakui amat menyukai rumah panggung yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia itu. ”Rumah panggung tidak hanya unik dan menarik, tetapi juga mencerminkan cita rasa pemiliknya,” ujarnya.

Empat setahun

Jika Anda ke Sumatera Selatan, sempatkanlah berkunjung ke Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir, atau sekitar 55 kilometer selatan Kota Palembang ini. Anda bisa menyaksikan bagaimana industri kreatif pembuatan rumah panggung bongkar pasang ini tetap bergairah dan tak terimbas krisis.

Menurut Kepala Desa Tanjungbaru Petai Rozaliakne (63), dari 1.460 warga atau 350 kepala keluarga, 90 persennya bekerja di bidang usaha membuat rumah panggung atau rumah bongkar pasang. ”Usaha ini turun-temurun, dari nenek moyang hingga generasi ke generasi. Selagi kayu ada, tak akan berhenti masyarakat membuat rumah panggung ini,” kata dia.

Tidak hanya rumah panggung yang diproduksi di Tanjungbatu Seberang dan Tanjungbaru Petai, tetapi juga ada bangunan sekolah/pesantren, mushala, gazebo, dan bangunan lain, tergantung pesanan.

Sudirman yang sebelumnya membuat rumah panggung berukuran 8 x 10 meter untuk seorang manajer di Bandung, juga tengah menyelesaikan sebuah rumah panggung. ”Satu rumah selesai dalam tempo tiga bulan. Dalam setahun bisa selesai empat rumah, yang hampir selalu ada saja pemesannya,” katanya.

Bentuk dan ukuran rumah panggung produksi Tanjungbatu ini tergantung pesanan. Apakah ingin berukuran 4 x 4 meter, 6 x 6 meter, 5 x 7 meter, 6 x 8 meter, 6 x 10 meter, atau 10 x 10 meter, terserah si pemesan. Desain juga bisa dibuat si pemesan. Kalau harga umumnya dipatok berdasarkan ukuran, yang kisarannya Rp 1,25 juta sampai Rp 1,5 juta per meter persegi. Juga tergantung jenis kayu. Semakin bagus kualitas kayu, harga semakin mahal.

Jika ada yang berminat, rumah yang dipajang atau selesai dibuat membutuhkan waktu tujuh hari untuk membongkarnya kembali, sedangkan untuk memasangnya kembali di tempat tujuan pembeli butuh waktu sekitar 10 hari, dengan 2-3 pekerja.

”Harga jual rumah di luar ongkos kirim, yang dibebankan kepada pembeli, semakin jauh daerah tujuan semakin besar biaya angkut. Kalau rumah ingin dipelitur atau dicat, menjadi beban si pembeli,” kata Karni, pembuat rumah di Tanjungbaru Petai.

Peminat rumah kayu produksi Kecamatan Tanjungbatu ini ternyata tidak hanya terhadap rumah baru. Rumah yang telah ditempati belasan dan puluhan tahun juga sering ditawar calon pembeli.

Bahkan, saat ini ada rumah panggung di desa Tanjungbatu, Kecamatan Tanjungbatu, yang telah dipakai belasan tahun dibeli sekitar Rp 50 juta. ”Kalau harga sesuai, tak ada salahnya dilepas,” kata Abidin.

Kayu tembesi di Tomohon

Sama halnya dengan di Tanjungbatu, di Tomohon rumah panggung bekas pakai juga banyak yang menawar. ”Rumah panggung bekas pakai harga relatif murah. Untuk rumah dua kamar, misalnya, bisa dihargai sekitar Rp 20 juta,” kata Frengky Tirukan, pengusaha rumah panggung adat Minahasa di Tomohon.

Jika di Tanjungbatu jenis kayu tembesi sudah langka, sulit didapat, maka di Tomohon jenis kayu berkualitas nomor satu itu masih bisa didatangkan dari Gorontalo. Oleh pengusaha rumah panggung di Tomohon, jenis kayu tembesi umumnya digunakan untuk rangka rumah.

”Karena terbuat dari kayu-kayu berkualitas baik, ada rumah panggung di Tomohon yang sudah berusia 115 tahun,” ungkap Frengky.

Rumah panggung bongkar pasang dari Tomohon ini, menurut Frengky, banyak juga pemesannya dari Malaysia, Filipina, Perancis, dan Kostarika. ”Setahun saya bisa menjual 15 sampai 20 unit rumah,” katanya. ”Di Tomohon, sedikitnya ada 100 warga yang usahanya membuat rumah panggung bongkar pasang.”

Harga rumah panggung di Tomohon tergantung jenis kayu yang diinginkan, Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta per meter persegi. Ongkos kirim tersendiri, tergantung jauh dekatnya rumah tersebut diantar. Ke Jakarta, biaya kirim mencapai Rp 12 juta, untuk satu dan atau dua unit rumah. ”Ke Filipina, biaya kirim Rp 28 juta,” kata Frengky, pengusaha yang tahun ini telah mengirim delapan unit rumah panggung ke Malaysia.

Hadapi tantangan

Rumah panggung memang unik. Namun, tetap saja model rumah seperti ini menghadapi tantangan. Sampai saat ini, persoalan bahan baku kayu memang belum jadi masalah. Namun, dengan pembabatan hutan yang tak terkendali di Tanah Air, keberadaan bahan baku rumah kayu juga menjadi ancaman.

Jika pembabatan hutan secara tak terkendali dibiarkan terus, bukan tidak mungkin perajin rumah kayu yang terkenal kreatif pun bisa gulung tikar. Salah satu solusinya, perlakukan hutan secara arif disertai kegiatan reboisasi. Dengan begitu, usaha rumah kayu tetap berjalan, hutan pun tetap lestari.

Yurnaldi
Sumber : Kompas.com (
Selasa, 21 Oktober 2008 | 08:18 WIB)

Readmore »» Rumah Panggung Hadapi Tantangan

MIMPI "Go International" Tukang Rumah "Knock-Down"

Oleh : Muhamad Nasir (Sinar Harapan 2003)

PALEMBANG - Rumah kayu punya ciri khas dibanding rumah batu. Oleh karena menyesuaikan perkembangan zaman, rumah kayu pun kini dibuat knock down atau bongkar-pasang, sehingga bisa didirikan di mana saja.Sayangnya, meski sudah mencoba berinovasi dengan rumah knock down, berbagai kendala membuat para tukang meranjat di Desa Tanjung Batu Seberang, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), belum mampu menembus pasar internasional.
Di daerah lain yang juga memproduksi rumah knock down seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Bali, usaha rumah jenis ini memang banyak diminati orang asing dan menjadi langganan para bintang film kelas dunia. Menurut Syarifuddin, salah seorang pengusaha rumah knock down di Tanjung Batu, dari segi ketahanan rumah made in Tanjung Batu Seberang masih di atas produk Bali. Hanya saja karena berbagai kendala seperti permodalan dan akses pasar, peluang untuk go international masih sebatas impian.Desa Tanjung Batu Seberang berjarak 65 km dari Palembang, bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Desa-desa di Kecamatan Tanjung Batu seperti Tanjung Batu, Tanjung Atap, dan sekitarnya termasuk Desa Tanjung Batu Seberang yang berpenduduk sekitar 1.500 keluarga tersebut, memang sejak lama memiliki tenaga terampil pertukangan sehingga kerap disebut tukang meranjat.
Kemahsyurannya sebagai daerah pemasok tenaga pertukangan berkualitas itu juga dikenal sampai ke Bengkulu, Jambi, dan Lampung. Seiring perkembangan zaman, walaupun sudah banyak tergeser oleh bangunan permanen, upaya untuk meneruskan kebiasaan turun-temurun ini tetap berjalan. Cerita digdayanya rumah knock down bikinan Desa Tanjung Batu Seberang memang bukan tanpa alasan.
Menurut Mang Din, demikian Syarifuddin kerap disapa, ini terbukti saat terjadinya gempa bumi di Liwa, Lampung Selatan, tahun 1990-an. ”Ada warga sedang memasang rumah di sana. Sedang asyik bekerja tiba-tiba terjadi gempa, rumah di daerah itu banyak yang rubuh atau retak-retak, sementara rumah panggung kayu yang sudah terpasang tidak rubuh,” tuturnya.Seperti lazimnya rumah-rumah adat di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan yang memakai tiang, rumah-rumah desa di sini pun demikian. Konon, ihwal tiang yang menopang rumah itu tidak lepas dari upaya warga untuk menghindari serangan binatang buas.Dan kini, saat banjir sering melanda Tanah Air, pilihan terhadap rumah kayu bertiang mungkin perlu dipertimbangkan. Di Sumatera, terutama pedesaannya, membangun rumah bertiang juga sebagai antisipasi kalau-kalau terjadi banjir. Minimal, kalau banjir yang melanda tingginya mencapai 1-2 meter, dijamin air belum akan masuk rumah.
Sesuai dengan namanya, rumah bongkar-pasang alias knock down ini berupa rumah yang sudah terpasang, yang kemudian dapat dibongkar kembali. Untuk memudahkan pemasangan nantinya, sembari dibongkar bagian-bagian rumah seperti dinding, jendela, serta kerangka-kerangka rumah tersebut diberi tanda sesuai dengan nomor urut. Bagian-bagian rumah ini nantinya tinggal dipasang kembali begitu tiba di lokasi pemesan.
Tiga Ukuran Untuk memesan rumah ini disediakan tiga ukuran standar, yakni 5x7 meter, 7x10 meter, serta 7x12 meter. Ukuran 5x7 meter paling banyak diminati, meskipun yang paling sering dikehendaki konsumen bukan hanya ukuran tetapi bagian ornamennya.“Mereka ingin ornamen khusus yang tidak kita miliki agar penampilan rumah ini menarik,” kata Mang Din, kakek sembilan cucu yang masih terlihat awet muda ini.Untuk mengerjakan rumah ukuran 5x7 meter diperlukan 3-4 pekerja dalam dua bulan, dan tiga bulan untuk ukuran 7x10 m dan 7x12 m. Harganya Rp 1.200.000/meter, tidak termasuk bagian genting (atap), tiang, dan plafon. Harga itu sudah termasuk ongkos angkut dan pasang di tempat pemesan, tetapi harga ini hanya untuk sampai Kota Bandung dan sekitarnya. Untuk bagian dinding dan lantai, terdiri dari kayu meranti atau kayu duren yang didapat dari daerah Beringin, Muara Enim. Sementara itu, tulang (kusen) dibuat dari kayu seru dari Palembang dan dari desa-desa di sekitar Tanjung Batu. Tetapi belakangan ini pasokan bahan baku tersebut sulit didapat dan harganya melonjak. Satu kubik kayu seru berukuran panjang lebih empat meter harganya Rp 1.800.000, sedangkan di bawah empat meter Rp 1.200.000. Sementara itu, kayu duren Rp 1.200.000 dan meranti Rp 2.000.000. Selain merambah berbagai daerah di Sumatera Selatan, pangsa pasar rumah knock down juga sampai ke Medan, Lampung, Padang, Pekanbaru, Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, dan sekitarnya. Usaha rumah bongkar-pasang buatan Desa Tanjung Batu Seberang sempat merambah Spanyol beberapa tahun silam. Sayangnya, dari empat unit pesanan yang bisa dilayani hanya satu unit.“Pemasangan dilakukan orang sana (Spanyol) berdasarkan petunjuk di handycam yang sebelumnya mereka rekam. Kalau kami sendiri yang memasang, biaya menjadi tinggi karena besarnya ongkos ke sana,” jelas Mang Din.
Bupati Ogan Ilir Mawardi Yahya memberikan perhatian khusus kepada usaha kecil menengah (UKM) yang banyak terdapat di daerahnya. “Hanya saja saat ini baru sebatas pemberian pembinaan manajemen dan bimbingan menembus pasar. Sementara itu, untuk bantuan permodalan, masih terkendala dana,” tuturnya.Mau mencoba memiliki rumah knock down? Mungkin Anda perlu mengunjungi Desa Tanjung Batu. Sembari berwisata, apa salahnya kita sekaligus mencari bangunan yang bisa memberi nuansa baru di saat harga bahan bangunan terus melonjak. n


Copyright © Sinar Harapan 2003
Readmore »» MIMPI "Go International" Tukang Rumah "Knock-Down"

Syarifuddin Terus Bertahan dengan Kerajinan Rumah Pasang-Bongkar

Kompas : 14 Maret 2005

Memasuki Desa Tanjung Batu Sebrang, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, akan disuguhi pemandangan kegiatan pertukangan yang sibuk. Puluhan tukang bekerja membuat sejumlah rumah panggung kayu pasang bongkar atau knock down. Rumah-rumah baru yang telah selesai dikerjakan dibiarkan berdiri di kiri-kanan jalan.



Syarifuddin, salah seorang pengusaha kerajinan rumah bongkar pasang, juga terlihat sibuk, pada suatu siang pertengahan Februari 2005 lalu. Dengan memakai topi rimba, dia mengontrol beberapa tukang yang sedang memasang kayu-kayu penyangga atap rumah. Jika dirasa kurang pas, dia berusaha menjelaskan desain yang diinginkan. Sesekali dia ikut turun tangan.
"Desain rumah sangat menentukan nilai jual sehingga kami berusaha membuat desain sebagus mungkin. Desain bisa mengacu pada model tradisional atau dikombinasi dengan model lain yang lagi tren," kata Syarifuddin.


Lelaki berusia 54 itu sedang menyelesaikan lima rumah panggung pesanan dari Semarang, Bogor, dan Bandung. Pemesan dari Semarang berencana memesan beberapa puluh rumah lagi jika merasa puas dengan rumah produksi Tanjung Batu tersebut.


Syarifuddin adalah salah satu dari sekitar 300 perajin rumah bongkar pasang di daerah itu. Sebagaimana perajin lain, awalnya dia juga belajar menukang dari ayah dan kakeknya. Lelaki yang ramah tersebut baru benar-benar terjun menekuninya sejak tahun 1975, dan terus mengembangkannya hingga sekarang.


"Menurut legenda, kerajinan rumah ini dimulai oleh seorang tukang ahli bernama Usang Sungging. Ilmu pertukangan diwariskan kepada beberapa pemuda di desa tersebut turun-temurun sehingga 90 persen penduduk desa itu menjadi tukang pembuat rumah panggung," paparnya.


Syarifuddin termasuk yang cukup berhasil di antara perajin lain. Sehari-hari mempekerjakan 13 tukang, dan dia akan menambahnya jika pesanan menumpuk. Dalam setahun, rata-rata dia memproduksi lima rumah panggung dengan penghasilan bersih sekitar Rp 75 juta per tahun.


Dengan pendapatan sebesar itu, dia bisa menghidupi satu istri dan tujuh anak. Lima anaknya telah berkeluarga, satu lagi sedang kuliah di salah satu akademi perawatan di Palembang.
Mempertahankan kerajinan rumah bongkar pasang tidak mudah, terutama karena harga bahan baku, yang terdiri dari kayu seru dan meranti, terus melambung. Saat ini, harga kayu seru rata-rata Rp 900.000 per kubik, sedangkan kayu meranti Rp 1,5 juta per kubik.


Syarifuddin menyiasati kondisi itu dengan menekan biaya produksi dan sedikit menaikkan harga jual. Satu rumah tipe 60 dengan ukuran 6 x 10 meter dibuat dengan modal sekitar Rp 40 juta dan dijual seharga Rp 60 juta. Rumah tipe 45 ukuran 5 x 9 meter diproduksi dengan modal Rp 25 juta untuk dijual seharga Rp 45 juta. Adapun rumah tipe 24 ukuran 4 x 6 meter yang dibuat dengan modal Rp 15 juta, biasanya laku Rp 25 juta.


"Dengan manajemen produksi yang ketat dan memperluas jaringan pasar, kerajinan rumah panggung ini tetap bisa bertahan selama puluhan tahun. Bahkan, sekarang kami sering kewalahan memenuhi pesanan, karena sering sulit mendapat bahan baku," ucap Syarifuddin. (ilham khoiri)
Readmore »» Syarifuddin Terus Bertahan dengan Kerajinan Rumah Pasang-Bongkar

KAYU LANGKA, Kerajinan Rumah Terancam Bangkrut



KOMPAS : Rabu, 23 Februari 2005


Palembang, Kompas - Kerajinan rumah panggung bongkar pasang di Desa Tanjung Batu Seberang, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, terancam gulung tikar. Penyebabnya, kayu yang menjadi bahan baku utama kerajinan itu semakin sulit dicari dan harganya terus melambung.



Sejumlah perajin, Selasa (22/2), mengaku kesulitan mencari bahan baku kayu jenis meranti dan seru untuk membuat papan dan tiang rumah panggung knock down tersebut. Kalaupun didapatkan, harga kayu sudah mahal sehingga membutuhkan modal yang besar.
Saat ini harga satu meter kubik kayu seru Rp 900.000, sedangkan kayu meranti Rp 1,5 juta. Harga itu jauh lebih tinggi daripada tahun 2000. Saat itu, harga satu meter kubik kayu seru Rp 400.000 dan meranti Rp 700.000.

Melambungnya harga kayu menyebabkan para perajin tertekan karena harus mengeluarkan modal lebih banyak lagi. Untuk membuat satu rumah knock down tipe 60 berukuran 6 x 10 meter dibutuhkan modal sekitar Rp 30 juta, dan dipasarkan dengan harga Rp 40 juta. Sementara rumah tipe 24 berukuran 4 x 6 meter membutuhkan modal Rp 15 juta, dan biasanya dijual Rp 25 juta.

"Karena harga kayu semakin mahal, modal yang kami miliki menjadi kurang terus. Terpaksa harga jual dinaikkan mengikuti harga kayu," kata Syarifuddin (54), seorang perajin.
Selama ini, para perajin mendapatkan bahan baku kayu dari daerah Karangagung, Kabupaten Musi Banyuasin, dan dari daerah Beringin serta Ranau, Ogan Komering Ulu.
"Saat ini kami masih bertahan karena tidak ada pilihan kerja yang lain. Tapi, karena bahan baku tetap sulit dan mahal, mungkin lima tahun lagi para perajin akan bangkrut," kata Alimin (53), perajin rumah knock down lainnya.

Para perajin berharap, pemerintah ikut berperan menstabilkan harga dan mempermudah prosedur pembelian kayu agar kerajinan yang melibatkan lebih dari 700 orang itu bisa tetap bertahan.
Meskipun harga jual terus naik, pasar rumah knock down masih tetap tinggi, terutama di beberapa wilayah, seperti Bogor, Bandung, Jakarta, dan Surabaya. "Sebenarnya, kami agak kewalahan juga memenuhi permintaan pasar karena kayu sulit. Akibatnya, proses pembuatan rumah makin lama, bisa mencapai tiga bulan," ujar Syarifuddin. (iam)
Readmore »» KAYU LANGKA, Kerajinan Rumah Terancam Bangkrut

PENESAK JAYA | 2007-2018


  ©Template by Dicas Blogger. Edit by Urang Diri